Pendahuluan

Dusun Pasongken merupakan salah satu dusun di Desa Buntu Mondong, Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Wilayah ini berada pada kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.300–1.600 meter di atas permukaan laut, memiliki suhu sejuk, curah hujan yang tinggi, serta tanah vulkanik yang subur. Kondisi alam tersebut menjadikan Pasongken sebagai daerah yang sangat cocok untuk budidaya kopi Arabika berkualitas tinggi yang kini dikenal sebagai bagian dari kawasan Kopi Kalosi Enrekang.

Namun demikian, perjalanan kopi hingga menjadi komoditas utama masyarakat Pasongken berlangsung melalui proses yang panjang dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Awal Masuknya Kopi ke Tanah Duri

Sejarah mencatat bahwa tanaman kopi pertama kali diperkenalkan di Pulau Sulawesi pada masa pemerintahan kolonial Belanda sekitar pertengahan abad ke-18. Kopi Arabika kemudian dikembangkan di berbagai daerah pegunungan Sulawesi Selatan yang memiliki iklim sejuk, termasuk wilayah Enrekang, Tana Toraja, dan sekitarnya.

Pada masa itu, masyarakat Duri di wilayah Baraka dan Buntu Batu masih mengandalkan pertanian pangan seperti padi ladang, jagung, ubi, serta berbagai tanaman hortikultura sebagai sumber penghidupan utama.

Masuknya Kopi ke Desa Buntu Mondong

Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat pegunungan Enrekang, bibit kopi mulai dikenal oleh warga Buntu Mondong melalui petani dari daerah tetangga serta penyebaran bibit oleh pemerintah kolonial dan kemudian dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia setelah kemerdekaan.

Karena kondisi tanah yang sangat sesuai, tanaman kopi tumbuh subur dan menghasilkan cita rasa yang khas. Masyarakat kemudian mulai membuka kebun-kebun kopi di lereng-lereng pegunungan yang sebelumnya merupakan lahan hutan atau kebun campuran.

Pada awalnya kopi belum menjadi sumber pendapatan utama. Hasil panennya hanya dijual dalam jumlah kecil kepada pedagang yang datang dari Baraka atau Enrekang.

Perkembangan Kopi di Dusun Pasongken

Di Dusun Pasongken, tanaman kopi diperkirakan mulai berkembang secara lebih luas sekitar tahun 1970–1990 ketika harga kopi mulai meningkat dan akses transportasi menuju wilayah pegunungan semakin baik.

Pada masa tersebut hampir setiap keluarga mulai menanam kopi di lahan milik mereka. Penanaman dilakukan secara turun-temurun dengan memanfaatkan bibit dari kebun sendiri maupun pemberian dari kerabat.

Budidaya kopi menjadi bagian dari budaya masyarakat. Pengetahuan mengenai:

diturunkan dari orang tua kepada anak-anak mereka.

Kegiatan panen kopi bahkan menjadi momentum gotong royong antar keluarga.

Tradisi Pengolahan Kopi

Salah satu keunikan masyarakat Buntu Mondong adalah cara menjemur kopi di atas bangunan atau atap tambahan rumah. Cara ini telah lama dilakukan untuk menjaga kebersihan biji kopi sekaligus memanfaatkan sinar matahari secara maksimal. Tradisi tersebut masih dapat dijumpai hingga sekarang dan menjadi ciri khas petani kopi di desa ini.

Seiring berkembangnya pengetahuan tentang pascapanen, petani mulai mengenal berbagai metode pengolahan seperti:

yang mampu meningkatkan kualitas dan nilai jual kopi.

Kopi Sebagai Sumber Kehidupan

Saat ini kopi telah menjadi tulang punggung ekonomi sebagian besar masyarakat Desa Buntu Mondong, termasuk Dusun Pasongken.

Selain dijual dalam bentuk gabah atau green bean, sebagian masyarakat telah mengolahnya menjadi:

Perkembangan ini turut meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkenalkan nama Buntu Mondong sebagai salah satu penghasil kopi Arabika berkualitas di Kabupaten Enrekang.

Nilai Sosial dan Budaya

Bagi masyarakat Pasongken, kopi bukan sekadar tanaman perkebunan.

Kopi merupakan warisan leluhur yang menjadi simbol kerja keras, kesabaran, dan kebersamaan. Setiap musim panen menghadirkan aktivitas bersama di kebun, mempererat hubungan kekeluargaan, serta menjadi sumber biaya pendidikan, pembangunan rumah, dan kebutuhan hidup masyarakat.

Oleh karena itu, menjaga kualitas kopi berarti juga menjaga warisan budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Penutup

Perjalanan kopi di Dusun Pasongken mencerminkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan kekayaan alam pegunungan menjadi sumber kehidupan yang berkelanjutan. Dari tanaman yang dahulu hanya dikenal sebagai komoditas perkebunan, kopi kini telah menjadi identitas masyarakat Pasongken dan Desa Buntu Mondong.

Dengan tetap mempertahankan tradisi budidaya yang baik serta mengembangkan inovasi pengolahan dan pemasaran, kopi Pasongken diharapkan terus menjadi kebanggaan Kabupaten Enrekang dan mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *